Latest Entries »

(FF)LoFed…HoFed…Part 10-end
Author : HaeGi SiiCheFish

Cast : Shim Sunggi, Shin RiKi, Shim Harin *yang menjadi Shin Harin*, Shin Hyunrin, Shin Mingi, Park Sunggi, Park Seul Hyo, Nam HeeByul, Han Sung Young, All Member Super Junior, All Member SHINee, dan beberapa cast tambahan lainnya.
Cerita sebelumnya di LoFed…HoFed…Part 9
Shin Riki’s POV

“Oke. Tolong dengarkan ceritaku ini dengan baik” Shim Sunggi mulai bercerita mengenai masalah yang terjadi antara keluarga Seul Hyo dan keluarga Siwon sunbae serta mengenai hubungan mereka berdua.
“Apakah kalian punya rencana untuk semua itu?” Katanya mengakhiri seritanya.
“Hmmmmm” Semuanya terlihat berpikir keras dengan masalah ini.

Shin RiKi’s POV end
Park Sunggi’s POV
View full article »

Advertisements

(FF)LoFed…HoFed…Part 9
Author : HaeGi SiiCheFish

Cast : Shim Sunggi, Shin RiKi, Shim Harin *yang menjadi Shin Harin*, Shin Hyunrin, Shin Mingi, Park Sunggi, Park Seul Hyo, Nam HeeByul, Han Sung Young, All Member Super Junior, All Member SHINee, dan beberapa cast tambahan lainnya.
Cerita sebelumnya di LoFed…HoFed…Part 8
Shim Sunggi’s POV

“Kita putus. Jangan ganggu aku, keluargaku, sahabat-sahabatku, terutama Donghae. Kau dengar” kataku sambil melepaskan tanganku dari genggamannya yang mulai melonggar. Aku masuk kedalam mobilku dan langsung menjalankannya dengan kecepatan tinggi, meninggalkanya yang sedang menyesali perlakuannya.

Shim Sunggi’s POV end
Beberapa hari kemudian, pagi hari di kampus
Shin Harin’s POV

Sudah 2 hari aku, appa, dan eomma tinggal di rumah Hyunrin eonnie, dan sudah 2 hari pula aku tidak bisa tidur. Hari ini aku akan membicarakan masalah yang terjadi pada keluargaku kepada Song JiRa, anak Tuan Song yang telah berhasil merebut kekuasaan dan semua harta benda keluargaku.
“Nae sarangi jejariro oji mothago heullin noonmool mankeum muhlli ganeyo” HPku berbunyi. Ku rogoh benda kecil yang berbunyi itu dalam tasku.
“Yeoboseyo”
“…”
“Ne. Aku akan menemuimu di sana. Tunggulah sebentar” aku mematikan HPku dan meletakkannya di dalam tasku kembali.
Aku berjalan menelusuri koridor kampus dengan setengah berlari, dan beberapa menit kemudian aku telah sampai di depan sebuah ruang kelas yang tidak terpakai lagi. Aku membuka knop pintu dan ku kitari seluruh penjuru ruangan.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” JiRa dan kedua temannya menghampiriku. Kelihatannya mereka baru saja tiba di ruang kelas ini.
“Bisakah kita bicara berdua saja?” tanyaku. View full article »

(FF) Lofed…HoFed…Part 8
Author : HaeGi SiiCheFish

Cast : Shim Sunggi, Shin RiKi, Shim Harin *yang menjadi Shin Harin*, Shin Hyunrin, Shin Mingi, Park Sunggi, Park Seul Hyo, Nam HeeByul, Han Sung Young, All Member Super Junior, All Member SHINee, dan beberapa cast tambahan lainnya.
Cerita sebelumnya di LoFed…HoFed…part 7
Park Sunggi’s POV

“Anyeong. Dalam beberapa hari ini aku yang akan menggantikan KangIn songsaenim mengajar. Beliau sedang pergi ke luar negeri untuk mengurus beberapa masalah. Tolong kerjasamanya” Namja itu tersenyum dan kami semua nampak syok dengan kehadiran nemja itu.

Park Sunggi’s POV end
Sepulang Kuliah
Shim Sunggi’s POV

“Kenapa oppa jadi menggantikan KangIn songsaenim tanpa bilang-bilang denganku” tanyaku pada namja yang sedang berjalan disampingku yang membuatku dan sahabat-sahabatku terkejut atas kehadirannya secara tiba-tiba di kampusku.
“Aku hanya ingin membuat kamu dan juga semua sahabatmu terkejut” Teukie oppa tersenyum padaku.
“Shim Sunggi-ya” HeeByul meneriakiku dan dia berlari menghampiriku.
“Mwae, HeeByul-ah?” tanyanya.
“Rencananya kapan kalian pergi kerumah Seul Hyo?” tanyanya.
“Mungkin setelah makan siang” jawabku.
“Mian, aku tidak bisa ikut. Ahjumaku dari Jepang ada dirumah, aku harus menemaninya karena eommaku sedang ada kesibukkan” katanya.
“Tidak apa-apa. Tenang saja”
“Gomawo, Shim Sunggi-ya”
”Ne. Cheomanayo HeeByul-ah”
“Anyeong”
“Anyeong”
“Oh, jadi kalian ingin pergi kerumah Seul Hyo?” tanya Teukie oppa yang masih ada disampingku.
“Ne, oppa. Sudah beberapa hari ini kamu tidak melihatnya” kataku.
“Mungkin aku harus pergi ke kantin sekarang. Semuanya pasti sudah selesai makan. Anyeong, oppa” Aku langsung pergi menuju kantin, dimana sahabaat-sahabatku yang lain telah menunggu.

Shim Sunggi’s POV end
Di Kantin
Park Sunggi’s POV

Aku sedang asyik berbincang-bincang mengenai Seul Hyo yang menghilang akhir-akhir ini. View full article »

(FF) Because I Love You part 2
Author : HaeGi SiiCheFish

Cast : Shin Hyunrin, Cho Kyuhyun, Cho Sunggi, Shin RiKi, Shin HaRin, Lee Donghae, Kim Heechul.
Kyuhyun’s POV

Dia baik tapi hatiku masih belum bisa menerima pernikahan ini. Maafkan aku Hyunrin.
Ku ambil pakaian bersih yang dia sediakan untukku. T-Shirt panjang berwarna putih dan celana panjang tidur berwarna abu-abu, sangat cocok untuk suasana malam ini yang sedikit dingin. Ku kenakan pakaian itu lalu ku berpindah ke greentea yang dia seduhkan untukku. Ku cium aromanya dan ku hirup secara perlahan rasanya. Hangat dan rasanya sangat menenangkan pikiranku yang sedikit kacau.
Pintu kamar mandi terbuka. Ku lihat dia mengenakan gaun panjang berwarna merah muda yang telah disediakan eommaku untuknya. Cantik, kesanku.
“Tidurlah dikasur, aku akan tidur disofa ini” kataku sambil menepuk sofa yang sedang ku duduki.
“Mwo??” katanya sedikit terkejut.
“Hyunrin-ah, aku ingin bicara jujur padamu” kataku serius.
Dia mendekatiku dan duduk disampingku.
“Kau tau ini adalah pernikahan yang sangat tidak ku inginkan. Aku melakukan pernikahan ini hanya untuk membahagiakan kedua orangtuaku saja”
“Aku tau mungkin kau kecewa dengan sikapku tapi ku harap kau bisa menerima semua ini”
“Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu sampai aku benar-benar mencintaimu sebagai seorang wanita yang menjadi istriku bukan sebagai korban nafsuku” Aku terdiam sesaat. Ku lirik Hyunrin yang duduk di sampingku. Dia menggenggam kedua tangannya sedangkan wajahnya hanya bisa menunduk
“Mianhe, Hyunrin-ah. Jeongmal mianhe. Ku harap kau bisa mengerti” kataku mengakhiri.
Dia berdiri dan berjalan menuju kasur. Dia rebahkan dirinya di atas kasur dan memalingkan wajahnya dariku.
Ku tau dia kecewa tapi aku hanya ingin jujur padanya saat ini. Aku tidak ingin menyakitinya lebih dalam lagi.
Ku pandangi punggungnya dan ku rebahkan tubuhku diatas sofa dan ku terlelap.

Kyuhyun’s POV end.
Paginya
Hyunrin’s POV

Pagi-pagi sekali aku telah bangun. Ku bangkit dari kasur. Ku lihat Kyuhyun yang sedang tidur lelap di atas sofa.
“Hmmmm” Aku menarik nafas dalam mengingat pengakuannya tadi malam.
Ku ambil selimut yang tergeletak di atas kasur. Ku selimuti tubuhnya agar tetap hangat, Ku pandangi wajahnya. Wajah yang sangat tampan namun terasa terbebani dengan pernikahan ini.
Beberapa menit aku memandangi wajahnya, aku turun ke bawah menuju dapur dan memasakkan bubur untuknya.
Bubur yang ku masak sudah matang dan jam dinding rumahku menunjukkan jam 6.10 pagi. Aku kembali menuju kamarku dan ku lihat Kyuhyun masih tidur dengan lelap. Aku putuskan untuk mandi terlebih dahulu, lalu membangunkannya.
Beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan ku dapat Kyuhyun tidak ada di atas sofa. Dengan sedikit berlari dan sedikit rasa khawatir ku cari-cari Kyuhyun dan mendapatinya sedang berenang di kolamr renang di halaman belakang rumah kami. Aku sangat lega, dirinya masih berada di rumah ini.
“Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku sangat mengkhawatirkannya saat dia tiba-tiba saja dia menghilang? Terus, ada apa ini. Kenapa jantungku berdegup kencang saat aku melihatnya? Apakah aku telah jatuh cinta padanya dalam waktu 1 malam??” Banyak sekali pertanyaan yang ada dipikirkanku sekarang.
Aku membalikkan badanku dan menuju dapur, menyiapkan bubur yang telah ku buat tadi pagi.

Hyunrin’s POV end
Kyuhyun’s POV View full article »

(FF) Because I Love You

Cast : Shin Hyunrin, Cho Kyuhyun, Cho Sunggi, Shin Harin, Shin RiKi, Lee Donghae, Kim Heechul.

Hyunrin’s POV

Malam ini aku akan dipertemukan dengan calon suamiku. Yah, calon suami. Calon suami yang tidak ku ketahui bagaimana orangnya karena pernikahan ini adalah suatu perjodohan. Hmmm, mungkin di luar sana tidak ada yang merasakan bagaimana rasanya dijodohkan sepertiku tapi itulah yang terjadi denganku sekarang.
“Hyunrin, ayo keluar calon suamimu dan keluarganya telah datang” Eomma yang tiba-tiba muncul di balik pintu kamarku membuyarkan lamunanku tentang perjodohan ini.
“Ne, eomma” Aku keluar dari kamarku dan mengikuti eomma menuju ruang keluarga.

Kami adalah keluarga yang cukup terpandang di Seoul. Appa adalah pengusaha besar dan eomma adalah designer ternama, dan aku adalah putrid tunggal mereka yang masih kuliah di salah satu universitas terbaik di Seoul.

Aku terus berjalan mengikuti eomma dengan wajah tertunduk Suasana di ruang keluarga yang ramaii diiringi beberapa tawaan terdengar ke luar. Eomma membuka pintu dan keadaan yang ramai menjadi hening sesaat.
“Hyunrin, ayo kesini. Duduklah di samping appa” Appa mengisyaratkanku duduk disampingnya.
Aku berjalan menuju appa dengan masih tertunduk.
“Hyunrin, masih ingatkah kau dengan ahjushi. Sewaktu kau masih kecil ahjushi sering menggendong dan membelikanmu ice cream” kata seorang ahjushi yang duduk tepat dihadapanku.
Aku mengangkat wajahku dan betapa terkejutnya aku bahwa yang ahjushi itu adalah Tuan Cho.
“Ahjushi, ahjuma. Apa kabar?” Aku tersenyum pada mereka.
“Kami sangat sehat dan sangat bahagia sekarang” Nyonya Cho yang duduk disamping Tuan Cho menjawab pertanyaan basa-basiku.
“Hyunrin, kau pasti sudah lupa kalau Tuan Cho mempunyai anak laki-laki, kan???” Appa bertanya padaku.
“Tentu saja dia lupa. Kami kan pindah ke Amerika waktu umur Hyunrin masih 4 tahun. Hahaha” Semua orang diruangan itu tertawa. View full article »

Aku balik lagi dengan FFku yang baru. Ini hanya FF One Shoot pertamaku. Maklumi aja, ya kalau gak bagus.! Hahaha

Cast :
Shim Sunggi
Lee Donghae
Shin Riki
Kim Heechul
Han Sung Young

Author : HaeGi SiiCheFish

Sunggi’s POV

Aku merasa sudah sangat letih dengan hidupku. Hidupku bagaikan sebuah kertas yang hangus terbakar menyisakan abunya yang tidak berguna sama sekali.

Sewaktu umuku masih 5 tahun, orang tuaku bercerai dan aku memutuskan untuk ikut bersama appaku, karena pada saat itu walaupun aku tidak mengerti tapi aku tahu siapa yang salah antara appa dan eommaku. Bagaimana tidak, ada seorang ibu bermesraan, bercumbu, bahkan melakukan hubungan suami istri dihadapan anaknya sendiri dengan laki-laki lain. Akkhh?? Itu sangat menyakitkan untukku.

Bagaimana hidupku sekarang?? Tidak berubah bagiku. Setelah aku ikut dengan appaku, appaku menikah dengan wanita yang berusia 5 tahun lebih muda darinya, Ku akui dia cantik, anggun, dan berasal dari keluarga terhormat, tapi dia sangat tidak menyukaiku dan terkadang melakukan kekerasan kepada ku.

“Sunggi, sampai kapan kau hanya duduk di sana. Hari sudah semakin gelap.” RiKi, sahabatku meneriaki ku membuyarkan lamunanku tentang kehidupanku yang sangat menyedihkan itu.
Aku bangkit dari kursi taman yang tepat menghadap pantai, dan berlari kecil menghampirinya.

Karena aku tidak sanggup lagi hidup dengan appa dan wanita itu, aku akhirnya melarikan diri dari rumah dan sekarang aku menetap disebuah kota kecil bernama Mokpo. Aku menetap disebuah apartemen sederhana, aku juga telah berpenghasilan sendiri dengan bekerja sebagai kasir disebuah mini market bernama Nemo mini market dan itu telah berlangsung selama 2 bulan yang belakangan ini. Selain itu aku juga mendapatkan sahabat yang sangat mengerti dengan keadaan diriku saat ini, apalagi kami satu apartemen dan itu memudahkanku untuk berbagi padanya.

Malam hari di kamar apartemen.
Malam telah datang, udara malam mulai menyengat kamar apartemenku. Aku rapatkan mantel yang tengah ku pakai.
“Apa kamu tidak ingin pulang kerumah mu lagi??” tiba-tiba RiKi masuk kekamarku dan menyentuh pundakku pelan dari belakang.
“Aku sudah cukup mendapatkan penderitaan dari wanita itu” aku berjalan menghampiri jendela kamarku dan ku buka, dapat ku lihat banyaknya bintang berkelap-kelip dilangit luas.
RiKi duduk diatas kasurku. “Tapi bagaimana dengan appamu. Apakah kau tidak ingin bertemu dengannya lagi?” tanyanya lagi.
“Aku sangat ingin bertemu dengan appa. Aku sangat merindukannya. Tapi tidak untuk sekarang.” Aku membalikkan badanku, menatap RiKi yang tengah menatapku.
“Baiklah. Aku akan terus menjadi sahabatmu apapun yang terjadi, dan aku akan berusaha membantu apapun yang ku hisa” dia tersenyum padaku.
Aku menghampirinya dan memeluknya. Bersyukurnya aku pada saat ini mendapatkan seorang sahabat seperti RiKi,

Pagi hari.
Setelah melaksanakan shalat dan berdoa, ku mulai aktivitasku dengan membersihkan kamar apartemenku lalu mandi dan bersiap-siap untuk bekerja.

Aku merapikan kemeja biru muda serta riasan wajahku dengan sebaik mungkin.
“Sudah mau pergi” lagi-lagi RiKI mengejutkanku.
“Ne. Hari ini akan ada sajangnim muda dari Seoul yang ingin meninjau karyawan tempatku bekerja” kataku masih dengan kesibukanku, merapikan riasan wajahku serta rambutku.
“Tidak sarapan”
“Nanti saja di mini market”
“Nih, bawa” RiKi menyerahkan sebuah bungkusan berwarna ungu kepadaku.
“Apa ini??” aku merasa bingung.
“Aku tidak sengaja bangun kepagian, dan membuat terlalu banyak nasi goreng. Dari pada aku bertambah gemuk karena memakan semua ini, lebih baik aku berikan padamu” dia mengangkat alisnya.
“Gomawo, RiKi-ya” aku tersenyum tanda berterima kasih padanya.
“Tapi, tunggu dulu. Apakah kamu serius ingin pergi ke mini market dengan rambut dan riasan seperti itu” RiKi tersenyum menghina dengan riasanku.
“Ne. Memangnya kenapa? Jelek? Tidak cocok.” Aku merasa bingung sendiri.
“Nah, itu tau. Hahahaha” Dia tertawa keras membuat mata sipitnya hilang.
“Mwo?? Apa yang kau bilang??” aku sedikit kesal dengan kelakuannya.
“Oke. Mianhe. Jeongmal mianhe” RiKi sedikit menghentikan tawanya.
“Bagaimana kalau aku tata ulang riasan dan rambutmu? Masih ada waktu, kan??” katanya lagi.
“Hmmm. Baiklah” kataku setuju.

RiKi mulai melepaskan kunciran rambutku dan mengikatnya ulang dengan rapi, dia juga menambahkan beberapa jepit pita dirambutku, membuatku terlihat lebih muda dari umurku yang berusia 21 tahun. Pada riasan wajahku, dia menambahkan sedikit eyeshadow dan blush on.

“Sudah selesai. Nanti belajarlah ber-rias denganku. Jangan asal-asalan. Oke” Dia tersenyum puas melihat hasil riasannya pada diriku.
“Bagus sekali. Nanti kalau aku mau pergi bekerja, aku mampir dulu ke kamar apartemenmu, ya.!! Hahaha” Kataku sambil bangkit mengambil tasku yang tergeletak diatas kasur.
“Bayar” katanya lagi.
“Ckckck. Awas kau. Hahaha”
”Apa?”
“Akkhh, aku berangkat dulu. Kuncikan pintu kamarku, aku sudah bawa cadangannya kok.” Kataku sambil memeluknya dan setengah berlari keluar apartemen.

Di Mini Market.
“Anyyeong. Selamat pagi” Aku menyapa beberapa karyawan yang telah datang lebih awal dariku.
“Anyyeong. Pagi juga. Kau tampak berbeda hari ini, kau terlihat lebih cantik dan rapi dari biasanya” MinRin mengomentari penampilanku.
“Gomawo MinRin-ah. Ini adalah riasan temenku”

“Semuanya tolong berkumpul” kata SungYoung Pujangnim.
“Hari ini sajangnim muda, kepala kepegawaian pusat mini market kita dari Seoul akan datang. Tolong semuanya bekerja dengan baik dan tampilkan kebaikan serta keramahan kalian kepada pelanggan” SungYoung Pujangnim menasihati kami.
“Ne, Pujangnim” kataku dan karyawan lainnya secara serempak.

Jam 2 siang.
Aku melayani pembeli seperti biasanya. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan mini market kami. Aku perhatikan mobil itu, dan keluarlah seorang namja yang kira-kira umurnya tidak jauh berbeda denganku. Penampilannya sangat rapi tapi aku tidak dapat melihat wajahnya karena pada saat itu dia menunduk dan aku harus melayani pembeli.

“Anyyeong. Anda pasti adalah Lee Donghae, anak dari Tuan Lee DongWo pewaris dari Nemo mini market. Silakan masuk.” SungYoung Pujangnim mengisyaratkan namja itu masuk kedalam mini market.
Dia tidak menghiraukan ucapan SungYoung Pujangnim, dia malah masuk dengan seenaknya.
Aku melanjutkan pekerjaanku dan berharap tidak akan bertemu dengan namja yang seenaknya seperti itu.

Sunggi’s POV end

Donghae’s POV
Sebenarnya aku tidak ingin melakukan pekerjaan seperti ini apalagi dengan embel-embel anak dari Tuan Lee DongWo dan pewaris dari Nemo mini market.
Kehidupan seperti ini membuatku muak, aku tau itu adalah kewajibanku meneruskan usaha keluargaku. Tapi, umurku baru 23 tahun dan aku sudah harus menanggung tanggung jawab sebesar ini.
Aku bisa menolak semua ini, tapi siap-siaplah, aku akan menjadi seorang suamu dari wanita yang tidak aku kenal dan tidak ku cintai.

Aku memasuki salah satu Nemo mini market di kota Mokpo, tempat kelahiranku. Aku disambut dengan sedikit berlebihan oleh SungYoung noona, dan itu membuatku sedikit merasa gusar dan ingin segera pergi dari tempat itu.

Aku mengitari setiap sudut ruangan Nemo mini market, dan aku terhenti melihat seorang yeoja yang sedang menjaga kasir. Penampilannya yang sangat sederhana dengan riasan seadanya namun rapi itu membuat jantungku berdekup kencang.
“Ahjushi, setelah ini aku harus kemana lagi?” aku menanyakan jadwalku dengan SangMin ahjushi yang telah mengabdi dengan keluargaku berpuluh-puluh tahun yang lalu.
“Tidak ada, tuan muda”
“Kalau begitu aku ingin disini selama 1 minggu atau 10 hari. Bisa, kan??”
“Nanti biar saya usahakan, tuan muda”
“Harus” kataku dan berjalan keluar dari Nemo mini market.

Donghae’s POV end

Sunggi’s POV
Sore harinya.
Jam tanganku menunjukkan jam 4 sore, aku harus segera pulang.

“Apa yang kalian lakukan??” aku terkejut tengah mendapati RiKi dan Heechul tengan berciuman mesra.
“Hei, kalau mau masuk ketuk pintu dulu dong. Ini juga bukan kamar apartemenmu, kan. Jadi, jangan seenaknya.” Heechul merasa kesal dengan kedatanganku.
“Stop, oppa. Apa yang terjadi sampai kau terburu-buru seperti itu, Sunggi?” RiKI menghampiriku yang masih berdiri di depan pintu kamar apartemennya.
“Appaku… Appaku….” Aku terkulai lemas dan air mata mulai membanjri pelupuk serta wajahku.
“Ada apa. Sunggi? Apa yang terjadi?” RiKi mulai mengkhawatirkanku.
“Appaku telah tiada. Dia telah meninggalkanku. Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi sekarang, Aku sendirian. Aku….” Kata-kataku tercekat oleh pelukan RiKi yang lumayan erat namun menenangkan.
“Ani. Ani. Kau masih memiliki aku. Aku, Heechul, dan lainnya. Kau tidak sendirian.” RiKi mulai ikut menangis, sedangkan Heechul hanya dapat memeluk kami berdua.

Besoknya, di Seoul tepat di pemakaman appa.
RiKi sengaja mengajakku ke pemakaman appa setelah acara pemakamannya berakhir. Itu semua dilakukannya agar aku tidak bertemu ibu tiriku.

“Appa, kenapa appa tega meninggalkan Sunggi sendiri. Appa, Sunggi menyayangi appa. Sunggi merindukan appa. Mianhe, appa. Jeongmal mianhe..” suaraku mulai parau, mataku sudah semakin memerah.
Aku menangis sejadi-jadinya di makam appa. RiKi hanya dapat menangis dipelukkan Heechul, yang saat itu juga menemani aku dan RiKi ke Seoul.

“RiKi, Sunggi. Ayo kita pulang. Relakan lah kepergian appamu. Doakanlah agar dia tenang dan bahagia di atas sana” Heechul menarik tanganku pelan agar aku berdiri.
“Ne. Heechul-ah, gomawo atas kebaikan kau selama ini”
“Ne Sunggi-ya. Kau telah ku anggap sebagai dongsaengku sendiri, sekarang anggaplah aku ini oppamu sendiri. Oke” Heechul mengusap rambutku dengan lembut, bagaikan seorang kakak yang benar-benar menyayangi adiknya.
“RiKi-ya, goma……” belum selesai kata-kataku, RiKi telah memelukku dengan eratnya. Kami menangis bersama di hari pemakaman yang tengah hujan itu.

2 hari kemudian.
Aku memutuskan untuk masuk kerja kembali. Sudah 2 hari ini aku ijin dari Nemo mini market. Sebenarnya RiKi memaksaku untuk tidak bekerja selama beberapa hari lagi, tapi bekerja adalah tanggung jawabku dan kewajibanku saat ini.
“RiKi-ya, aku pergi dulu. Aku nitip kamarku, ya! Nih kuncinya” kataku di depan pintu kamar apartemen RiKi sambil melempar kunci kamar apartemenku.
“Ne. Tapi, kamu serius untuk masuk kerja lagi. Istirahatlah beberapa lagi, Sunggi-ya.!!” RiKi menghampiriku dan memegang pundakku. Masih terlihat kekhawatiran di wajahnya.
“Ne, aku akan baik-baik saja. Aku berangkat dulu, ya.! Annyeong.!!” Kataku sambil berlalu dari pandangannya.

Sunggi’s POV end

Donghae’s POV
Beberapa hari ini aku rela datang ke Nemo mini market, tapi tak ku jumpai yeoja itu. Kemana sih dia? Aku ingin bertanya dengan SungYoung noona tapi, yakkhh?? Malu rasanya.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling Nemo mini market. Pandangan ku terhenti tepat pada seorang yeoja yang baru masuk dari pintu Nemo mini market. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan terlihat memerah. Apa yang terjadi padanya?
Aku mendekat kepadanya yang sedang berbicara dengan SungYoung noona.
“Mianhe SungYoung Pujangnim, aku baru bisa masuk sekarang” katanya. Terdengar suaranya yang sangat parau, mungkin akibat menangis, pikirku.
“Ne. Seharusnya kamu tidak perlu masuk kerja dulu. Istirahatlah dulu. Kami semua sangat memaklumi cobaan untukmu itu, dan kami semua turut berduka cita atas semua itu” SungYoung noona memegang tangannya.
“Khamsahamida, SungYoung Pujangnim” matanya mulai berkaca-kaca.
Setelah itu dia mulai ke ruang karyawan, dan aku memberanikan diri untuk bertanya pada SungYoung noona tentang dirinya.

“Noona, apa yang terjadi padanya. Ku lihat wajahnya sangat pucat” kataku akhirnya.
“Masuklah ke ruangan saya, tuan muda. Saya akan menceritakan semuanya”
Aku hanya mengikutinya ke ruangannya, dan setelah sampai di ruangannya, dia menceritakan semuanya.

Donghae’s POV end

Sunggi’s POV
Hari ini aku banyak diam di Nemo mini market, mungkin aku hanya ingin menyembuhkan rasa kehilanganku. Aku berjalan-jalan santai dan sampailah aku di sebuah taman di dekat apartemenku. Aku memilih duduk di salah satu ayunan yang kosong sambil memandangi beberapa anak kecil yang sedang asyik bermain, dan sesaat aku melamun tanpa tak menyadari apa yang sedang ku lamunkan.
Lamunanku buyar saat sebuah tangan yang memegang es krim vanila tersodor ke arahku.
“Ini untukmu”kata namja itu. Aku mengangkat wajahku untuk mengetahui sosok namja itu, dan ternyata dia adalah Lee Donghae, pewaris Nemo mini market.
“Ambil. Ini untukmu. Esnya sudah mulai meleleh nih.”katanya lagi.
Aku mengambil es krim itu, ku pandangi sosoknya lagi yang sedang duduk di ayunan di sebelahku dengan tatapan bingung dan heran.
“Kenapa menatapku seperti itu? Eh, lihat itu es krimnya meleleh dan mengotori tanganmu.” Dia menarik es krim yang ku pegang lalu menjilati tanganku yang kotor karena lelehan es krim.
“Manis, sepertimu” katanya lagi.
“Mwo? Apa katamu?” kataku terkejut.
“Manis, sepertimu” dia tersenyum manis dan menyerahkan es krim yang di pegangnya tadi kepadaku kembali.
“Mengapa kau ada disini?” kataku sambil melahap es krim yang diberikannya.
“Aku sebenarnya tidak ingin kesini, tapi hatiku yang menuntunku ke sini” Katanya sambil tersenyum gombal padaku.
“Saranghae. Would you marry me??” katanya lagi. Aku yang sedang melahap corn es krim, tersedak.
“Apa yang kau katakan tadi?” kataku menatap tak percaya padanya.
Dia berjalan ke arahku dan berlutut dihadapanku.
“Saranghae. Would you marry me??” katanya mantap. Dia menatap lekat ke dalam mataku untuk meminta jawabanku.
“Kau tidak tau bagaimana aku dan kehidupanku yang dulu dan sekarang. Begitu juga dengan ku yang tidak tau kehidupanmu selama ini” kataku.
“Aku tau dirimu. Kau adalah Shim Sunggi, kan??” katanya.
Dia lalu bangkit dan membalikkan badannya, membelakangiku. Dia mulai bercerita mengenai hal-hal yang diketahuinya tentangku. Dia juga bercerita mengenai kehidupannya dari dia mulai lahir sampai dirinya sekarang,
“Bagaimana?” tanyanya lagi.
“Aku akan memikirkannya dulu. Tunggulah jawabannya besok.” Kataku sambil berjalan masuk ke apartemen.

Di kamar apartemen RiKi
Aku menceritakan kejadian yang baru saja ku alami kepada RiKi. RiKi mendengarkannya dengan seksama.
“Bagaimana perasaanmu saat dia melamarmu?”
“Aku merasa, yaahh senanglah” kataku dengan nada tersipu.
“Sudah saatnya kau bahagia. Kau selalu saja menderita. Mungkin ini adalah kebahagiaan dan anugerah dari Tuhan atas kesabaranmu. Menikahlah dengannya” RiKi memelukku.
“Kyaa?? Aku yang lebih dulu pacaran, kau yang duluan menikah. Ckckck. Awas kau.” Katanya lagi sambil tersenyum padaku.
“Minta saja Heechul oppa untuk melamarmu, dan semuanya beres. Hahaha” kataku enteng.
“Hei, apa yang kalian bicarakan. Kenapa namaku juga masuk dalam pembicaraan kalian??” Heechul oppa yang entah dari kapan telah datang, ikut menyambung pembicaraan kami.
“Ne, oppa. RiKi mau oppa secepatnya melamarnya” kataku santai sedangkan RiKi menatap tajam ke arahku.
“Oohh, kalau begitu baiklah.” Heechul oppa berlutut di hadapan RiKi sambil memegang kedua tangan RiKi.
“Saranghae. Would you marry me? Would you be my wife for ever ever after?” kata Heechul oppa.
“Naddo, saranghae oppa.” Kata RiKi.
“Yeeeeeeeeeee” kataku kegirangan. Aku langsung menghamburkan pelukanku ke RiKi dan Heechul oppa.

Besok harinya, malam.
Aku mulai meneguhkan hati, pikiran, serta pendirianku. Aku tidak yakin Donghae akan datang malam ini karena sekarang sudah jam 11 malam.
“Sunggi-ya..Sunggi-ya.. ayo ikuti aku..” RiKi masuk ke kamar apartemenku dengan tergesa-gesa dan dengan nafas ngos-ngosan.
“Wae, RiKi-ya??” kataku bingung View full article »

(FF) LoFed…HoFed… Part 7
Cast : Shim Sunggi
Shin RiKi
Shim HaRin *yang jadi Shin HaRin*
Shin HyunRin
Han Sung Young
Park Sunggi
Nam HeeByul
Park Seul Hyo
Shin Minggi
All Member Super Junior & SHINee
Dan Cast Pendukung lainnya.

Hmmmm, akhirnya nih FF muncul juga. Karena saking banyaknya kegiatan dan ulangan jadi nih FF di publishnya baru bisa sekarang. Mianhe, temen-temen.. Hehehe
Langsung aja deh kita mulai, chekidot..

Sebuah Hotel Berbintang jam 7 malam.
Acara Resepsi Pernikahan Hyunrin eonnie dan Kyu oppa.
Hyunrin’s POV
Aku berdiri di depan sebuah panggung yang cukup megah dengan seorang laki-laki yang sangat aku cintai yang sekarang telah menjadi suami sahku. Aku mengenakan gaun berwarna putih yang sangat indah yang menurut Harin membuatku kelihatan sangat anggun dan cantik, sedangkan Kyu oppa mengenakan kemeja putih yang dibalut dengan jas berwarna senada yang membuat dirinya kelihatan sangat tampan dan gagah.
Tamu mulai datang satu persatu, appa dan eommaku dan juga appa dan eomma Kyu yang merupakan mertua ku duduk disampingku dan disamping Kyu oppa.
Hyunrin’s POV end

MinGi’s POV
Apakah aku salah lihat, namja yang berada disamping Kyu oppa itu bukankah namja yang dulu pernah menabrakku dan membelikanku es krim. Apa hubungannya dengan Kyu oppa?? Gumamku dalam hati.
Dia berjalan menghampiriku. Aku masih diam di tempatku, sampai dia berdiri tepat di depanku.
“Kau yang kemarin aku tabrak, kan???” tanyanya padaku.
“Akkh. Ne, betul sekali. Hehehe” aku menjawab dengan tersenyum lebar.
“Apa kamu baik-baik saja?? Aku betul-betul minta maaf atas kejadian itu.” Terlihat rasa bersalah dari wajahnya.
Aku mengangguk. “Ne, tidak apa-apa. Lagian kamu kan sudah mentraktirku juga”
“Ah, iya. Mianhe aku lupa menghubungimu. Akhir-akhir ini aku sangat banyak kesibukkan.”
“Ne, tidak apa-apa. Hmm, ngapain kamu disini? Terus apa hubunganmu dengan Kyu oppa??” tanyaku lagi.
“Oh, aku ini dongsaengnya Kyu hyung. Tidak mirip, ya.?? Kamu sendiri, ngapain disini??” katanya lagi.
“Aku dan dongsaeng Hyunrin eonnie, Harin adalah sahabat. Jadi, aku diundang kesini”. Aku tersenyum dan kami pun mulai berbincang-bincang dengan panjang lebar.
MinGi’s POV end

Shim Sunggi’s POV
Aku dan Kibum oppa memasuki ruang resepsi pernikahan Hyunrin eonnie dan Kyu oppa. Aku mengenakan gaun biru muda dan Kibum oppa mengenakan kemeja hitam, Aku mengitari setiap sudut ruangan dengan mataku. Aku melihat Harin sedang bermanja-manja dengan Geun Suk, MinGi sedang asyik mengobrol dengan seorang namja yang kurasa vokalis band yang pernah mengisi acara dalam acara puncak kampus kami, Sung Young dan Park Sunggi belum terlihat mungkin belum datang, begitu juga dengan Riki dan Seul Hyo, sedangkan HeeByul memang tidak bisa hadir karena ada suatu hal yang tidak kami ketahui.
Kibum oppa menyentuk pundakku pelan. “Chagi, tunggu sebentar disini,ya.! Aku akan mengambilkan minuman untukmu.”
“Ne,oppa. Aku akan menunggu oppa disana saja.” Aku menunjuk salah satu sudut ruangan yang terdapat hamparan kue-kue yang menggiyurkanku.
Kibum oppa mengangguk, dan berlalu dari pandanganku. Aku pun menuju sudut ruangan yang ku tunjukkan kepada Kibum oppa.
Aku melihat-lihat kue-kue yang menggiyurkan itu sambil sesekali mengambil beberapa diantaranya. Aku terkejut karena tiba-tiba ada sebelah tangan yang menggapai pundakku.
“Bukankah kamu adalah putri, pelanggan baru café kami” kata seorang laki-laki berbadan gemuk yang ku yakini adalah Shindong, seorang waiter sebuah café yang beberapa hari lalu ku kunjungi.
“Ne, Shindong, Kalau bertemu di luar café jangan pernah memanggilku putri. Panggil saja aku Shim Sunggi” kataku sambil tersenyum manis padanya.
“Oh, iya apa yang kau lakukan disini” tambahku lagi.
“Kebetulan yang menjadi mempelai pria dalam pernikahan ini adalah sahabat dari pemilik café tempatku bekerja. Dan aku datang untuk membantunya menyiapkan kue-kue disini. Kau sendiri?”
“Aku adalah sahabat dari adik mempelai wanita dalam pernikahan ini. Pantas saja, aku merasa kue-kue disini sangat enak, ternyata kue-kue ini dari café kalian” pujiku. Dia hanya tersenyum sampai sebuah suara yang cukup keras meneriakinya.
“Shindong..Shindong..” kata seorang pria yang kurasa juga adalah pelayan café tersebut. Tapi, kenapa dia terlihat sangat rapi dan terkesan sangat cool dengan setelan jas hitam yang membalut badan putihnya, pikirku.
“Ada apa sih Donghae? Aku baru saja santai nih.!” Shindong terlihat sedikit bercanda dengan ucapannya tadi,
“Akhh? Kau ini. Aku hanya ingin tau dimana kue apel yang kau sisipkan untukku tadi” katanya lagi.
“Oh, ini” Shindong menyerahkan sebuah kotak yang sedari tadi dipegangnya.
“Kue apel??” kataku mendadak yang membuat mereka berdua sedikit heran dengan ucapanku.
“Hmm, kau kan yang kemarin datang ke café kami” laki-laki berjas hitam itu mulai menyadari adanya diriku.
Aku mengangguk, “dan kau adalah laki-laki yang juga sempat melayaniku”
“Hmm, sebenarnya dia bukan pelayan. Dia adalah pemilik café tersebut, Shim Sunggi. Namanya Lee Donghae” Shindong menjelaskan.
“Lee Donghae imnida” katanya sedikit membungkuk.
“Shim Sunggi imnida” aku juga melakukan hal yang sama.
“Lalu, apakah disini juga terdapat kue apel yang kemarin, Shindong??” tanyaku.
“Hmmm, sebenarnya masih ada. Tapi……….” Belum selesai Shindong menyelesaikan ucapannya, Donghae memotongnya.
“Oh, kau juga suka kue apel??” Donghae bertanya padaku.
“Ne” aku mengangguk.
“Ini ambillah, aku sengaja membuatnya tadi” Donghae memberikan kotak yang Shindong berikan padanya.
“Tapi kau….??”
“Ambil saja lagian aku bisa membuatnya lagi” katanya.
“Chagi…” Kibum oppa menghampiri kami bertiga.
“Ne, oppa. Oh, iya perkenalkan ini Shindong dan ini Donghae” kataku memperkenalkan teman baruku pada Kibum oppa.
“Shindong imnida” Shindong membungkuk.
“Donghae imnida” Donghae juga membungkuk dan mengulurkan tangannya pada Kibum oppa.
“Kibum imnida” Kibum membalasnya dan menyalami Donghae.
“Chagi, tadi appamu mencarimu. Dia ada disana” kata Kibum oppa lagi.
“Ne. Ayo kita ke sana. Shindong, Donghae makasih atas kuenya. Aku pasti akan datang ke café kalian lagi” Aku dan Kibum oppa berlalu dari hadapan mereka.
Shim Sunggi’s POV end.

Di rumah RiKi
RiKi’s POV
“Nuga jeonhaejweo my baby, to my baby naega yeogi itdago malya
Gidalinda malya (Baby, you turn it up now)” Handphone ku berbunyi dan tertampang nama Heechul oppa di layarnya. Aku langsung mereject handphoneku dan menonaktifkannya.
Aku menenggelamkan kepalaku di bawah bantal dan menangis sejadinya. Aku tidak menyangka Heechul oppa mempunyai kekasih lain selain diriku.
“Tok…Tok…” Pintu kamarku di ketuk oleh seseorang.
“RiKi, sayang. Ini eomma. Bisakah eomma masuk sebentar” Eomma setengah berteriak dari luar kamarku.
“Ne, eomma”
Eomma masuk dan menutup pintu kamarku kembali. Dia menghampiriku dan duduk di tepi ranjang.
“Kenapa sayang?? Kata JiHee ahjuma, waktu kamu pulang kuliah kemarin sampai sekarang kamu tidak ada keluar kamar. JiHee ahjuma juga bilang, katanya makanan yang dikasihnya pun tidak kau sentuh sama sekali” Eomma menanyaiku sambil membelai rambutku.
Aku menyampingkan bantal yang menenggelamkan wajahku lalu duduk dan langsung menangis di peluknya.
“Kenapa sayang?? Ada apa??” Tanya eomma lagi.
“Heechul oppa mempunyai kekasih lain selain diriku, eomma” kataku di sela tangisku.
“Memangnya kau melihat sendiri??” Tanya eomma lagi.
“Ne, eomma. Kemarin dia datang ke kampusku” kataku.
“Kamu sudah mendengarkan penjelasan darinya??” Eomma menanyaiku terus.
“Tidak perlu eomma” kataku lagi.
“Dengarkanlah penjelasannya dulu. Mungkin ini hanya salah paham” Eomma memegang kepalaku dan menghadapkanku kearahnya.
“Semuanya harus dibicarakan dengan baik-baik. Jangan seperti ini. Cara seperti ini tidak akan memperjelas semuanya” eomma memberiku nasihat lalu memelukku kembali.
“Kalau begitu, ayo kita makan. Sebentar lagi appa selesai mandi” Eomma melepaskkan pelukkannya lagi menggandengku keluar menuju meja makan.
Riki’s POV end

Di apartemen SungYoung dan Park Sunggi
SungYoung’s POV
Aku baru saja menghubungi Harin memberitahukannya bahwa diriku tidak dapat hadir dipesta Hyunrin eonni.
“Park Sunggi, pergilah. Aku bisa kok menjaga Minwo sendiri” kataku.
“Santai saja. Aku juga lagi ada tugas nih” Park Sunggi yang sedari tadi tidak lepas dari laptopnya menyahutku.
Malam ini memang ada pernikahan Hyunrin eonnie. Aku sebenarnya ingin datang tetapi sore hari tadi Minho sengaja mampir ke apartemenku untuk menitipkan Minwo karena dia harus lembur malam ini dan aku tidak enak hati untuk menolaknya. Aku akhirnya mau menolongnya dan sekarang Minwo sedang tertidur di kamarku. Wajahnya sangat lucu dan imut saat dia tidur, dan yang paling mengejutkan dia tidur dengan wajah tersenyum menandakan kehidupannya yang sekarang sudah bahagia walaupun dia hanya memiliki seorang hyung dan hidup dengan sangat sederhana, *Kyaa?? Kok aku jadi sedih, ya nulis ini!!! Akhh?? Aku jatuh cinta ma peran Minwo…Hahaha*
Sung Young’s POV end

Pagi harinya.
Di rumah HeeByul.
HeeByul’s POV
Beberapa hari yang lalu aku ke suatu daerah yang dulu sering ku kunjungi bersama Taemin. Tapi malangnya nasibku, ternyata tempat itu telah berubah menjadi sebuah perkantoran.
Aku berpikir keras untuk bertemu dengan Taemin lagi. Pada saat acara puncak kemarin dia tiba-tiba datang menemuiku dan menghilang begitu saja.
Aku membuka laptopku dan mencari-cari beberapa fotoku dan Taemin waktu kecil. Aku sangat merindukannya.
“HeeByul. Ada kiriman untukmu” Eomma yang berada di bawah meneriakiku.
“Ne, eomma” Aku langsung turun ke bawah menemui eomma.
Aku melihat eomma yang sedang mengamati kotak yang berukuran besar. Bisa ku tebak, eomma pasti sedang menebak-nebak isi dari kotak itu.
Aku menghampiri eomma dan eomma memberikan kotak itu kepadaku. Aku membuka tutup kotak itu dan mengeluarkan isinya secara perlahan-lahan.
“Ini kan boneka yang beberapa hari lalu ku inginkan saat aku berjalan-jalan dengan yang lainnya” aku sedikit terkejut dengan isi kotak tersebut yang ternyata sebuah boneka ayam yang sangat lucu yang beberapa hari lalu ku lihat disebuah tempat penjualan boneka.
“Siapa yang memberikannya??” eomma ikut penasaran. *Wah, ternyata rasa penasaran anaknya berasal dari eommanya toh.. Hahaha*
Aku mencari-cari surat atau apapun yang dapat memberitahukanku pemberi boneka ini. Namun, tidak kunjung ketemui dan itu membuatku sangat penasaran dan berharap dapat bertemu dengan pemberi boneka ini.
HeeByul’s POV end.

Di Kampus
HaRin’s POV
Aku pergi kuliah seperti biasanya, Hari ini Geun Suk tidak bisa menjemputku karena eommanya meminta di antarkan ke sebuah butik ternama di Seoul milik eommnya. Aku berjalan-jalan riang sambil menyapa beberapa teman yang ku lalui.
“Shin HaRin” sebuah suara membuatku berhenti untuk melangkah.
Aku membalikkan badan dan mendapati Song JiRa yang melangkah menghampiriku.
“Ne. Ada apa?” kataku.
“Jangan pernah dekati Geun Suk lagi atau kau akan menyesal selamanya” JiRa mengancamku dan memegang kerah baju kemeja yang tengah ku kenakan.
“Apa yang kau lakukan JiRa??” Geun Suk yang tepat berdiri di belakang JiRa sedikit berteriak.
“Ani. Aku tidak melakukan apa-apa, oppa??” katanya menyangkal dan langsung melepaskan cengkramannya dari kerah bajuku.
“Chagi, kau tidak apa-apa, kan???” Geun Suk mendekatiku dan membelai rambutku.
“Ne. Aku tidak apa-apa” kataku.
“JIRa, sekali lagi kalau ku lihat kau mengancam atau melukai HaRin kau selamanya tidak pernah ku ampuni” Geun Suk menatap tajam kearah JiRa.
JiRa merasa ketakutan dan langsung membalikkan badan meninggalkan aku dan Geun Suk.
“Chagi, kau benar-benar tidak apa-apa, kan??” Geun Suk masih mengkhawatirkanku.
“Ne, oppa. Aku baik-baik saja” Aku tersenyum manis padanya.
Treeeetttttt….Treeeeeeeetttttttt….*Bel tanda masuk berbunyi*
“Kyaaaa?? Sialan sekali sih nih kampus. Baru aja aku ketemu ma calon istriku bel masuk udah bunyi. Ckckck” Geun Suk mengutuk.
“Mwo, oppa?? Calon istri???” Aku sedikit terkejut dengan kutukannya.
“Ne. Aku kan sudah berjanji akan menikahimu nanti” Dia memegang belakang kapalanya. Wajahnya juga sedikit memerah, menandakan dia sedang malu.
Aku hanya tersenyum melihatnya. Aku mencium pipi kanannya dan berlari kecil menuju kelasku meninggalkannya yang sedikit terkejut atas tindakanku. View full article »

Part 6 akhirnya muncul juga. Di part ini akan ada beberapa cast tambahan. Please read it..

Sehari setelah acara puncak (Jam 5 subuh di rumah Shim SungGi)
Shim SungGi’s POV
“Shim SungGi..Shim SungGi.. Ayo, bangun sayang. Shalat subuh dulu” suara seorang wanita yang sangat aku rindukan mengalun lembut ditelingaku.
“Ne. Sebentar lagi” aku membalikkan badanku dan menutup telingaku dengan boneka nemo yang berenang-renang di sampingku.
“Bangun dulu, sayang. Appa dan Oppamu telah menunggu di mushola” wanita itu mulai mengguncang-guncangkan tubuhku.
Aku membalikkan badanku ke hadapan wanita itu. Ku buka mataku secara perlahan-lahan.
“Eomma..” kataku histeris, setelah mendapati eomma yang telah tersenyum manis dihadapanku.
“Apa kabar sayang? Eomma sangat merindukanmu” katanya sambil mengecup keningku lembut.
“Baik, eomma. Eomma sendiri??? Kapan eomma datang??? Kenapa eomma tidak memberitahuku?? Dimana appa, eomma??” setelah eomma melepaskan kecupannya dikeningku, aku langsung duduk bersila dihadapannya dan memberikan banyak pertanyaan padanya.
“Aisshh, apa-apaan itu?? Kalau mau nanya itu satu-satu. Eomma bingung mau menjawab yang mana??” eomma membelai rambutku lembut. “Lebih baik kita shalat dulu. Appa dan oppamu telah menunggu kita di mushola.” Sambungnya lagi.
“Ne eomma” aku bangkit mengambil mungkena biruku yang tergeletak manis di atas kursi belajarku.
“Shim SungGi, cuci muka dan sikat gigi dulu” eomma mengingatkanku.
“Ne, eomma” aku berbelok ke kamar mandi setelah mendengar peringatan eomma.

5 menit kemudian, di mushola *Mushola rumah loo*.
“Appa” teriakku.
“Hey, anakku. Apa kabar??” appa memelukku.
“Shim SungGi, jangan kangen-kangenan sekarang. Kita semua mau shalat, tau.” Ucapan Sungmin oppa membuatku melepaskan pelukanku pada appa.
“Iya, itu benar. Nanti waktu shalat subuhnya habis.” Teukie oppa menyambung.
“Ne” kataku.
Appa menjadi imam dalam shalat kali ini. Hmmm, sungguh sangat lama aku tidak melakukan shalat berjemaah bersama appa dan eomma. Setelah melakukan shalat subuh bersama aku memutuskan membantu eomma didapur menyiapkan sarapan pagi untuk kami sekeluarga, apalagi jadwal kuliahku hari ini baru dimulai jam 9 pagi.
“Eomma, kenapa eomma bisa pulang lebih awal.? 2 hari yang lalu eomma baru bilang kalau eomma mungkin akan pulang sekitar 2 minggu lagi.” Aku menatap eomma yang sedang mengaduk-aduk bubur.
“Kemarin pagi, appa mendapatkan berita kalau di Seoul terjadi sebuah perkara yang sangat penting dan harus segala diselesaikan.” Eomma menjelaskan lalu tersenyum padaku. Appaku adalah seorang pengacara yang cukup terkenal di Seoul, Cina, Jepang, dan beberapa daerah di Asia dan Eropa. Sedangkan eomma hanyalah seorang istri yang selalu menemani suaminya kemanapun suaminya pergi, baik dalam keadaan yang bagaimanapun.
“Sayang, ayo kamu mandi dulu. Lagian buburnya sudah mau matang, lalu bergegaslah untuk sarapan pagi bersama-sama.” Eomma menyuruhku.
“Ne, eomma. Oke” aku tersenyum manis kepada eomma dan bergegas menuju kamarku.

(10 menit kemudian.)
Semua anggota keluargaku telah berada dimeja makan. Ada appa, eomma, Sungmin oppa, aku, dan juga Teukie oppa. Kami menikmati bubur dan beberapa lauk yang telah eomma siapkan. Sepi. Ya, itulah tradisi dari keluargaku. Appa selalu menyuruh dan menyarankan kami agar tidak berbicara pada saat makan.
Tidak lama kemudian Sungmin oppa minta ijin untuk pergi ke kampus karena dia ada kuliah pagi, sedangkan Teukie oppa minta ijin untuk pergi ke rumah temannya, begitu juga appa yang harus pergi ke pengadilan pagi ini, dan hanya tersisa aku dan eomma dirumah.

Donghae’s POV *Akhirnya suami ku muncul. Kekeke*
“Kita putus saja. Aku tidak ingin mempunyai pacar yang hanya memanfaatkanku saja” aku mengatakan itu dengan tegas dihadapan seorang gadis yang berdiri tertunduk, menangis dihadapanku.
Aku membalikkan badanku, berjalan menuju mobil mewah yang terparkir tidak jauh dariku. Aku masuk kedalam mobil, dan ku lirik lagi wanita tadi melalui kaca spion mobilku.
“Hmmm, benar. Dasar wanita murahan.” Gumamku.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang menuju café Bounher milikku.
(15 menit kemudian)
Aku turun dari mobilku, memasuki sebuah café yang bernuansa alami yang dapat membuat semua pengunjungnya merasa sangat nyaman.
Pagi ini sudah sangat ramai, banyak mahasiswa yang mampir ke café ini sebelum mereka kuliah pagi.
“Putus lagi” ucapan Shindong, salah satu pegawai tetap sekaligus sahabatku menghentikan langkahku.
“Ne, benar katamu. Dia hanya memanfaatkanku saja. Gomawo” aku tersenyum simpul.
“Sabar saja. Suatu hari nanti pasti ada seorang wanita yang akan benar-benar mencintaimu, yang tidak memandangmu hanya dari materi saja” ucapan Shindong benar-benar menbuatku bersemangat kembali.
“Ne” kataku tersenyum lebar.
“Aku ada ide. Bagaimana kalau kamu berpura-pura menjadi pelayan saja di café ini??”
“Hmm, bagus juga. Kalau begitu aku harus ganti baju pelayan dulu” aku masuk keruang pelayan lalu keluar membawa baju pelayan ditanganku.
“Sekali lagi. Gomawo”
“Oke” Shindong mengacungkan jempol tangannya kearahku. Aku mengangguk, lalu memasuki ruanganku untuk mengganti pakaian.

Shim SungGi’s POV
Jam dinding rumahku menunjukkan jam 8.30 pagi. Aku sudah siap dengan celana jeans, kaos lengan pendek berwarna hitam yang ku padukan dengan cardigan abu-abu, dan tas hitam berukuran sedang, serta sepatu sendal yang berwarna senada. Riasanku kali ini juga sangat sederhana, aku hanya memakai bedak yang dipadukan dengan blush on dan eyeshadow pink tipis, dan lipgloss, rambutku ku ikat satu kebelakang membuat rambutku terlihat rapi, tidak lupa parfum beraroma buah, ku semprotkan kebagian tubuh dan kebagian pakaianku yang menciptakan sensasi segar *nah kaya iklan nih, tapi aku lupa*
Aku turun dari kamarku menuju eomma yang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.
”Mau kuliah?? Biar eomma antar, ya..??” eomma menawariku.
“Tidak usah eomma. Hari ini aku dijemput” aku duduk disamping eomma.
Tiiiinntt…Tiiintttt *suara klakson mobil, kaya gimana sih??*
“Sepertinya jemputanku sudah datang deh. Aku pergi dulu. Assallamualaikum”
Aku mencium tangan serta cipika cipiki ke eomma.
Aku bergegas menuju pintu gerbang rumahku, ku buka pintu gerbangnya. Terlihat sesosok laki-laki yang juga memakai baju hitam dan berkacamata hitam tersenyum manis dari jendela mobil yang sengaja dibuka untuk memperlihatkan sosoknya. Aku masuk ke mobil itu, dan seketika mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. *Ini kecepatannya gak perlu dihitung. Oke*

Di parkiran kampus, didalam mobil.
“Oppa, nanti oppa pulang kuliah jam berapa??” tanyaku pada Kibum oppa yang telah resmi jadi pacarku ini.
“Mungkin jam 11. Nanti pulang bareng, ya..!!” katanya lagi.
“Tapi, aku pulang kuliah baru jam 2 siang, oppa” kataku sambil menatapnya
“Biar aku tunggu” katanya santai.
“Akkh, ani oppa. Oppa pulang saja, lagian aku ingin ke suatu tempat” kataku lagi.
“Nanti aku tunggu” katanya tegas sambil menatapku.
“Oppa, aku mohon. Oppa pulang saja, ya..!! Oppa pasti masih lelah, kan..??” aku mengeluarkan puppy eyes dan wajah memohonku.
“Oke..oke..” dia menyerah, tetapi dia memanyunkan mulutnya menandakan kekecewaannya.
Aku tersenyum melihat wajahnya yang sangat lucu. Aku lalu mencium pipi kanannya lalu pergi keluar mobil menuju dalam kampus.
“Aisshh” katanya. Dia tertawa.

HaRin’s POV
Aku tidak kuliah hari ini. Aku ingin membantu semua pernikahan Hyunrin eonnie dan Kyuhyun oppa dari awal sampai akhir.
Jam tanganku menunjukkan jam 10 pagi.
“Harin, kamu benar-benar ingin ikut eonnie ke butik mengambil gaun eonnie.??” Hyunrin eonnie meyakinkan.
“Ne, eonnie. Aku ingin sekali bisa membantu eonnie menyiapkan semuanya” aku menjawab dengan pasti.
“Baiklah. Kalau begitu ayo kita berangkat..!!”

Park SungGi’s POV
Pelajaran Changmin songsaenim hari ini sangat membosankan bagiku tapi tidak bagi sahabat-sahabatku lainnya, mereka menyimaknya dengan sangat seksama. *bahasa ilmiah Indonesia. Hahaha. Apa lah?? GaZe. Error*
Laki-laki bernama Onew itu telah membuatku benr-benar jatuh hati.
“Aku harus mendapatkannya” gumamku pelan.
Aku mengeluarkan Hpku, ingin menelepon Henry. Tapi, tindakan ku terhenti oleh ucapan Changmin songsaenim.
“Park Sunggi, ayo kerjakan soal ini di papan tulis”
Aku yang tidak memperhatikan pelajaran Changmin songsaenim dari awal, menoleh kearah sahabat-sahabatku meminta pertolongan dari mereka. Tetapi, tidak disangka mereka mengacuhkanku dan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Aku akhirnya pasrah dan maju ke papan tulis.
“Mianhe, songsaenim tadi saya tidak memperhatikan songsaenim karena saya merasa tidak enak badan” kataku sedikit berbohong.
“kalau begitu istrahatlah. Syukurlah aku hari lagi terkena angin bagus, jadi tidak perlu menghukummu” Changmin songsaenim meninggikan suaranya.
“Ne, songsaenim. Khamsahamida” kataku kembali ke tempat dudukku.
*padahal mau dibikin Ezthe jd dimarahin dan didirikan di depan kelas, tapi kasihan Ezthe.*

RiKi’s POV
Di kantin.
“Ne, oppa. Aku akan baik-baik saja. Lagian aku hanya ke Shanghai hanya 5hari saja dan aku baru berangkat sekitar 1 minggu lagi” kataku.
“Tapi, jagi harus janji, tidak akan selingkuh disana.”
“ne, oppa”
Aku geleng-geleng mendengar kata-kata Heechul oppa. Dia benar-benar sangat perhatian kepadaku,
“Oppa..Heechul oppa..” suara wanita itu membuatku menoleh kearah suara itu. Begitu juga Heechul oppa yang duduk disampingku.
“Oppa.. Aku sudah lama mencari oppa. Oppa kemana saja??” kata wanita itu yang telah memeluk Heechul oppa dengan erat.
“Hyosi..” Heechul oppa terlihat sangat terkejut dengan kehadiran wanita itu.
“Ne, oppa. Akhirnya oppa masih ingat denganku. Oppa aku sangat merindukanmu” wanita itu semakin membuatku gerah dengan kelakuannya terhadap Heechul oppa.
“Siapa dia, oppa???” aku menanyai Heechul oppa yang masih terlihat sangat terkejut.
“Kenalkan, aku Hyosi. Kekasih Heechul oppa” wanita bernama Hyosi itu menjawabnya dengan senyum lebar, dan itu membuat emosiku mencapai puncaknya. Aku pun menghentakan meja yang ada didepanku dan berlari keluar kantin.
“RiKi..RiKi..RiKi..Tunggu dulu” teriakan heechul oppa pun tidak aku hiraukan.
Dan tepat didepan kelas seni, aku tidak sengaja menabrak seorang wanita dan kami pun jatuh bersamaan.
“MinGi, apa kau tidak apa-apa??” bisa kudengar itu adalah suara Hee Byul.
“Ne” katanya, sambil bangkit berdiri.
“Dan kamu?? RiKi??? Kenapa kamu menangis?? Ada apa??” Hee Byul yang melihatku langsung mendekapku dan membantuku berdiri.
Aku hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Hee Byul, lalu aku digiring oleh Hee Byul dan MinGi ke ruang kesehatan kampus.

Shim Sunggi’s POV
(di jalan)
Aku memutuskan pergi ke café Bonhuer yang telah lama ingin ku kunjungi. Aku berjalan-jalan santai di tepi jalan raya sambil melihat-lihat barang-barang yang terpajang disetiap toko yang aku lewati.
Setelah melewati beberapa toko dan berjalan sekitar 20 menit dari kampus, aku akhirnya sampai disebuah café berwarna coklat. Ku langkahkan kakiku memasuki café itu dan duduk di sebuah meja di pojok café itu yang menghadap kearah jalan raya.
Kesan pertamaku saat masuk kearah café itu adalah café itu sangat nyaman dengan nuansa alaminya, dan itu membuatku dan pelanggan yang berada disana merasa sangat betah.
“Maaf, Putri mau pesan apa” ucapan waiter berbadan gemuk itu membuyarkan lamunanku tentang café ini.
“Putri??” aku bingung dengan ucapannya tadi,
“Ne. Anda pasti baru pertama kali kesini, bukan?? Di café ini mempunyai kewajiban untuk memanggil tamu wanita dengan ucapan Putri dan tamu laki-laki dengan ucapan Tuan” laki-laki iu menjelaskannya dengan sangat sopan.
“Hmmm, terus dengan menu di café ini yang paling populer apa saja??” aku semakin merasa nyaman dengan pelayanan di café ini.
“Kalau begitu, bisakah saya mengetahui buah atau sayuran apa yang paling anda suka??” katanya lagi.
“Kalau begitu, bisakah kalian menyediakan kue yang 80% bahannya terbuat dari buah apel.” Aku sangat suka buah apel dan aku tidak pernah menemukan café yang bisa membuat kue itu, tapi perasaanku yakin café ini bisa membuat kue yang aku inginkan.
“Ne, kami akan segera menyiapkannya. Apakah ada lagi??” aku terkejut dengan ucapan pelayan itu.
“Dan jus apel” kataku lagi.
“Baiklah, itu saja, Putri. Tunggulah, kami akan segera menyiapkannya” pelayan itu berlalu dari hadapanku menuju dapur, dimana koki café itu membuatkan kue apelku.

(beberapa menit kemudian)
“Ini, pesan Putri. Semoga anda menyukai kue yang kami sajikan” kata pelayan gemuk tadi.
“Ne, Gomawo. Oh, iya nama kamu siapa?? tanyaku.
“Shindong, dan Putri??” katanya lagi.
“Oh, aku Shim Sunggi” kataku lagi sambil mengulurkan tanganku padanya.
“Semoga anda bisa menjadi pelanggan kami dan merasa puas dengan apa yang kami sajikan” Shindong menerima uluran tanganku, dan pergi meninggalkanku bersama kue apelku.
Selepas Shindong pergi *tinggallah disini ku sendiri (Laluna version)*, aku mencicipi kue apel yang ada dihadapanku. Enak dan lembut, tentunya apelnya begitu terasa dan itu membuatku sangat ketagihan untuk terus memakannya. Aku menghabiskan kue apelku dengan sekejap. Aku ingin lagi memakannya, dan aku memanggil pelayan yang lewat didepanku.
“Pelayan”
“Ne, ada Putri. Apakah Putri tidak suka dengan makanan kami??” laki-laki berbadan sedang berkulit putih itu kelihatan cemas.
“Ani. Aku hanya ingin memesan kue ini lagi. 1 potong untuk dimakan disini, dan 5 potong di bungkuskan, bisakan??” kataku.
“Ne. Apakah ada lagi??” tanyanya lagi.
“Itu saja. Gomawo” aku tersenyum manis pada pelayan itu.

(beberapa menit kemudian)
“Putri, ini kuenya??”
“Ne, gomawo” Aku menikmati 1 potong kue apel tadi, masih dengan lahapnya, dan itu membuat sepasang mata memperhatikanku.
Akhrirnya kue-kue itu masuk dengan lancarnya keperutku, dan jam sudah menunjukkan jam 4 sore, menyuruhku untuk segera pulang. Aku segera menuju kasir dan membayar semua kue-kue yang ku makan dan yang ku beli.
Aku keluar café itu dengan hati yang senang dan aku pun bersemangat untuk pulang kerumah.

Seul Hyo’s POV
“Seul Hyo, besok kamu harus berangkat ke Kanada, jam 1 siang pesawatnya berangkat” eomma mengemasi pakaianku ke dalam koper.
Aku tidak memberikan respon apapun dengan ucapan eomma barusan. Aku hanya diam duduk memandang keluar jendela. Hatiku sangat sedih karena harus berpisah dengan Siwon oppa dan juga dengan sahabat-sahabatku. Mungkin besok, tepat di hari pernikahan Hyunrin eonnie, adalah hari terakhir aku untuk melihat dan bertemu mereka untuk beberapa tahun kedepan.

Sung Young’s POV
“Hiks..Hiks…” isakan anak kecil itu membuat langkah kakiku semakin cepat.
“Minwo, kenapa kamu menangis???” Aku yang melihat anak kecil yang menangis itu yang ternyata adalah Minwo, langsung menghampirinya.
“Hiks…Minho hyung belum pulang. Hiks… Minwo takut, noona” aku mendekap Minwo.
“Jangan takut. Kan ada noona. Ayo, masuk ke apartemen noona. Kita tunggu Minho hyungnya di apartemen noona, ya..!!! View full article »

Aku kembali. Ini adalah part 5 ku.
Cekidot..

Malam hari, penutupan.
Ri Ki’s POV
Aku berdiri dipinggir lapangan sendirian mendengarkan Sungmin oppa yang sedang menyampaikan rasa terima kasihnya untuk panitia, pengisi acara, semua dosen dan petinggi kampus, dan juga semua penonton yang telah hadir.
Aku menggosokkan kedua tanganku, menandakan aku kedinginan. Aku memang lupa membawa jaket hari ini, entah mengapa, Tiba-tiba ada sebuah suara yang mengejutkanku.
“Makanya jangan lupa membawa jaket. Apalagi kalau sampai malam begini, jagiya” Heechul oppa meletakkan jaketnya dipunggungku memberikan sedikit kehangatan ditubuhku.
“Ne, oppa” kataku sambil merapatkan jaketnya ketubuhku.
Dia tersenyum lalu merangkul pundakku, membelai rambutku. Akupun menyandarkan kepalaku didadanya.

Di tempat lain
Min Gi’s POV
“Kemana sih yang lain” aku bertanya kesal pada angin yng berhembus dingin.
Aku berjalan dengan sedkit menghentakkan kaki, menandakan kekesalanku pada sahabat-sahabatku yang meninggalkanku sendiri seperti ini. Tapi, tanpa sengaja aku menginjak jalan yang sedikit becek.Tubuhku tersungkur kebelakang, aku menutup mataku takut. Tapi, beberapa detik kemudian aku tidak merasakan tubuhku jatuh kebawah. Ku buka mataku perlahan-lahan, dan betapa terkejutnya aku karena aku sedang berpandangan dengan seorang namja yang merupakan seorang vokalis band pengisi acara yang sangat kusukai yang sedang menompang tubuhku yang hendak jatuh. Kami berpandangan cukup lama sampai suaranya yang lembut itu membuyarkan pandanganku padanya.
“Apa kamu baik-baik saja” tanyanya.
“Ne” kataku sambil bangkit dari pangkuannya. “Gomawo”
“Cheonman. Anyyeong Yesung imnida” katanya sopan sambil membungkukkan badannya.
“Anyyeong. Min Gi imnida” kataku sambil tersenyum manis padanya.
Dia juga tersenyum padaku. Omo?? Senyumnya manis sekali, jantungku berdebar-debar.
“Apa kamu suka es krim” tanyanya lagi.
“Mwo?? Es krim?? Aku suka sekali” kataku bersemangat mendengar kata es krim.
“Ayo. Aku traktir sebagai tanda salam kenal” katamya lagi.
“jinjja??” tanyaku sedikit tidak percaya atas ajakannya.
“Ne” sahutnya sambil menarik tanganku pelan, aku mengikutinya.

Ditaman belakang sekolah.
Seul Hyo’s POV
“Aku akan ke Kanada tidak lama lagi” aku menatap langit luas yang ada diatas kepalaku. Suasana malam ini sangat indah, bertebur bintang yang membuat langit sangat ramai dan cerah. Tapi, angin tidak ingin bersahabat dengan langit, angin malam ini sangat dingin. *aduh, ribet banget menggambarkannya. Intinya kaya gitu deh*
“Mwo?? Jagiya, jangan bercanda” Siwon oppa yang duduk disebelahku terlihat terkejut atas ucapanku.
“Ne, oppa. Aku tidak tau kapan pastinya. Appa menyuruhku melanjutkan kuliahku disana, lagian disana juga ada ahjushi dan ahjumaku.” Aku menghela napas panjang.
“Kalau begitu aku akan ikut ke Kanada” dia menyandarkan tubuhnya kesandaran bangku yang kami duduki.
“Jangan, oppa. Tunggulah aku kalau oppa benar-benar mencintaiku” aku memandang kearahnya, lalu ku genggam tangannya.
“Apakah itu maumu, Seul Hyo” dia menggenggam tanganku erat.
“Ne, oppa” aku mengangguk.
“Baiklah” katanya lagi, lalu merebahkan kepalaku ke dadanya yang bidang.

Dilapangan (ditempat yang berbeda dengan Ri Ki)
Sung Young’s POV
Aku berjalan-jalan mengitari lapangan kampus yang luas ini berharap menemukan paling tidak salah satu sahabatku. Aku mendengar ada sebuah teriakan yang memanggil namaku, ku balikkan badanku.
“Noona. Eh, Sung Young-ah” namja itu menggaruk kepalanya.
“Minho-ya, Minwo-ya, apa yang kalian lakukan disini???” aku heran melihat namja yang aku cintai sedang ada dikampusku bersama dongsaengnya malam-malam begini.
“Ini. Dia ingin sekali menemui Sung Young noona katanya” Minho menunjuk Minwo yang sedang dituntunnya.
“Minwo-ya, ada apa ingin bertemu noona malam-malam begini?? Besok kita pasti bertemu juga, kan” aku duduk berjongkok dihadapan seorang anak kecil yang kira-kira umurnya 5 tahun. Dia adalah dongsaeng Minho yang sangat akrab denganku. Dia juga sangat sering mampir ke apartemen ku dengan Park SungGi walaupun hanya untuk duduk-duduk sampai Minho datang dari sekolahnya, kadang-kadang tidak jarang Minho juga menitipkannya padaku saat dia ingin pergi ke café tempatnya bekerja part time. Yah, mereka hanya hidup berdua karena dulu rumah mereka sempat terbakar dan anggota keluarga mereka hilang entah kemana. Syukurlah ada seorang pemilik apartemen yang mengasihi mereka sehingga mereka dapat tinggal di apartemen sebelah kami tanpa dipungut biaya, tapi tak jarang pula Minho membantu pemilik apartemen itu yang bernama Hankyung ahjushi.
“Minwo kangen dengan noona. Minwo mengetuk pintu apartemen noona lama sekali, tetapi tidak ada yang membukakannya” katanya polos.
“Mian. Noona lupa memberitahu Minwo kalau noona hari ini ada acara dikampus” kataku merasa bersalah.
“Minwo akan memaafkan noona kalau noona mau mengajak Minwo dan Minho Hyung mengitari sekitar tempat ini” katanya lagi.
“Eh, Minwo. Kau tidak boleh seperti itu. Sung Young noona pasti sangat sibuk sekarang” Minho memarahi Minwo. Minwo menunduk hendak menangis.
“Ahh, ani, aku tidak sibuk sekarang Minho-ya. Ayo Minwo-ya genggam tangan noona sekarang” aku berdiri lalu memberikan tangan kananku yang disambut tangan kiri Minwo. Aku dan Minwo berjalan bergandengan tangan, sedangkan Minho mengikuti langkah kami dari belakang.
“Dia cantik, baik hati pula” Minho bergumam dalam hatinya. Dia tersenyum lebar.

Ditempat lain juga (aku gak tau juga dimana pastinya)
Hee Byul’s POV
Aku bersandar disebuah tembok didepan sebuah kelas yang tidak kuketahui. Aku mengeluarkan dompet dari tasku, kubuka dan menemui sebuah foto. Difoto itu ada seorang gadis kecil bersama seorang bocah, mereka tersenyum lebar pada saat itu.
“Dimana kau sekarang. Aku sangat merindukanmu” kataku sambil mengelus foto itu. Tanpa sadar airmataku jatuh perlahan. Aku usap airmataku perlahan, ku tutup dompet itu dan kumasukkan kembali ke tasku. Tiba-tiba sebuah tangan menarikku, dia menyeret dan membungkam mulutku.

Di belakang gedung sekolah.
Ha Rin’s POV
“Ada apa sih Geun Suk memanggilku kesini. Seram sekali” aku mengoceh sendiri.
“Lama sekali sih” katanya agak sedikit gusar saat dia mengetahui kedatanganku.
“Siapa suruh bertemu disini. Tempat ini sangat menyeramkan, tau” aku sedikit marah padanya.
“Mian, aku tidak bermaksud begitu” katanya lagi, kali ini berkata dengan lembut.
“Iya, ada apa??” kataku to the point.
“Ada yang ingin aku katakan, duduklah dulu disana” katanya lagi sambil menunjuk 2 buah kursi. Aku berjalan menghampiri kursi itu lalu menduduki salah satunya, dan dia duduk disatunya lagi.

Di depan pintu gerbang kampus.
Park SungGi’s POV
Aku melihat ada Henry dan Onew didepan pintu gerbang kampusku, dengan cepat ku langkahkan kakiku mengampirinya.
“Anyyeong, Henry-ah, Onew-ah. Gomawo, sudah datang keacara kampus kami” kataku setelah sampai dihadapan mereka.
“Anyyeong Park SungGi-ya. Cheonman, lagian aku dan Onew juga tidak ada kesibukan jadi lebih baik kami kesini” kata Henry. Henry adalah temanku yang lumayan lama kukenal. Kami bertemu saat aku berkunjung kekampusnya dan tidak sengaja dia menabrakku dan dari itulah kami sering berkomunikasi dan berbagi informasi mengenai apapun. Tidak lama ini dia mengenalkanku dengan teman barunya bernama Onew, dan aku langsung jatuh hati padanya, Henry mengetahuinya dan dia berjanji akan membantuku untuk mendekatkanku dengan Onew, dan janjinya pun ditepatinya terbukti atas kejadian malam ini.
“Ayo masuk” ajakku. Mereka mengangguk dan mengiringiku berjalan.

Di pinggir lapangan.
“Aku kebelet nih, aku ke toilet dulu, ya.!!” Henry langsung menuju toilet kampusku. Salah satu kehebatan Henry, dia sangat hapal semua letak toilet diseluruh kampus di Seoul. Hahaha
“Dasar, Henry selalu saja seperti itu” gumamku. Ku toreh namja yang ada disebelahku, dia sibuk memandang sekeliling kampusku.
“Ayo kita kesana. Disana ada beberapa stand yang sedang menjual beberapa macam makanan seperti ayam goreng *ayam golek, ayam madu, tulang ayam. Gubrak!! Nih mah kembali kecerita Upin Ipin.. Lewat*, kimchi, dan lain-lainnya.”aku menunjuk salah satu arah yang terdapat banyak stand.
“Ayam goreng???” katanya kegirangan seperti mendengar sesuatu yang sangat penting baginya.
“Ne” aku mengangguk.
“Ayo, kita kesana” katanya bersemangat.
“Ayo” kataku lalu berjalan beriringan dengannya.
Ayam goreng??? Satu lagi hal yang aku tau tentangnya.

Diatas panggung
Sungmin’s POV
“Baiklah kita akhiri acara pada malam ini dengan menyalakan kembang api. Mari kita hitung mundur bersama” kataku bersemangat.
“10…9….8…7…6…5…4…3…2…..1..” Duarrrrrrrrrrr!!!! Kembang api menghiasi langit yang cerah pada malam ini dengan indahnya.

Dipinggir lapangan.
Shim SungGi’s POV *jangan ada yang protes kalau ini bagianku lagi*
Duaaaarrrrrr!!!!!!! Kembang api bagai terbang menghiasi langit yang luas. Aku memandangnya dengan senangnya. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang.
“Indah, cantik, sepertimu, Shim SungGi” namja itu membisikkannya tepat ditelingaku. View full article »

LoFed.d…HoFed…Part 4

Cast : Shim SungGi, Park SungGi, Shin RiKi, Shim HaRin, Shin HyunRin, Nam HeeByul, Han Sung Young, Park Seul Hyo, Shin MinGi, All Member SuJu, All Member SHINee, beberapa artis Korea, dan beberapa cast lainnya.

Genre : Romance *campuran*

Author : HaeGi SiiCheFish

 

Please Read and Enjoy it.

Sorry lama gak ng’postnya..

 

Cekidot….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

 

Hari Puncak di Kampus

Pagi ini sangat cerah. Semua panitia telah lengkap, acarapun siap dimulai dengan dibuka oleh beberapa sambutan dari peninggi kampus. Semua peninggi kampus telah siap diposisi masing-masing untuk menyampaikan pidato yang berbelit-belit  yang telah mereka siapkan beberapa hari lalu didepan semua mahasiswa, undangan, dan penonton. Sebagian dari orang itu ada yang mendengarkan dengan seksama dan sebagiannya lagi sibuk dengan pikiran, pekerjaan, serta khayalan masing-masing. Setelah “melalui proses yang panjang”, akhirnya sampailah di acara pemotongan tumpeng *jangan nanya macam-macam masalah tumpeng ini. Oke*

 

SungMin’s POV

Jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 11 siang, sehabis pemotongan tumpeng ini akan ada acara hiburan yang akan ditutup dengan penyalaan kembang api pada malam hari.

“MinGi, apa semuanya sudah kamu siapkan untuk acara hiburan nanti” tanyaku pada MinGi yang saat itu aku pilih mengkoordinat semua pengisi acara.

“Sungmin sunbae, jangan cemas. Semuanya telah aku beritahu dan mereka sangat paham, dan ku rasa semuanya akan berjalan lancar.” MinGi menjawab mantap serta menampilkan senyum khasnya. *Senyum khas??? Mank ada??? Lanjut*

“Baguslah. Gomawo atas kerja samanya” kataku lagi.

“Ne, sunbae. Aku harus kesana sekarang” dia menunjuk ruang basecamp pengisi acara dan berlalu dari hadapanku.

Aku memandang sekilas kearah ruang basecamp, lalu aku melanjutkan perjalananku ke ruang basecamp panitia.

Sekarang sampailah aku didepan pintu basecamp panitia, ku terhentak sejenak melihat Ri Ki yang sangat panik. Aku langsung mendekat kearahnya.

“Ada apa, Ri Ki???” tanyaku karena melihat kepanikan Ri Ki.

“Tidak ada apa-apa, sunbae. Aku hanya lupa menaruh bon pembelian makanan yang aku beli tadi” jawabnya dengan kepanikan yang cukup terlihat didepan wajahnya.

“Biarlah. Tapi, kamu masih ingatkan harga-harga makanan yang kamu beli tadi??” kataku sedikit menenangkan kepanikannya.

“Hmmm” dia terlihat berpikir sejenak. “Akkhh!! Aku sudah ingat semuanya, sunbae. Lalu???” katanya lagi sambil menunjukkan rasa sedikit herannya atas pertanyaan ku tadi.

“Kamu langsung saja bilang pada Hee Byul, agar Hee Byul langsung mencatat dibuku pengeluaran sementara” aku menjelaskan padanya.

“Tapi, bon itu kan bisa dibilang sebagai bukti pengeluaran kita. Apa sunbae percaya hanya dengan ingatanku saja??? Bagaimana kalau itu salah??? Itu bisa saja merugikan kita semua” dia mulai cemas dan merasa bersalah karena telah lalai dalam menjalankan tugasnya.

“Aku percaya denganmu.” Aku menepuk pundaknya pelan. “Lagian kalau kita sampai rugi, aku hanya perlu datang kerumahmu, bertemu orangtuamu, lalu menjelaskan kelalaian mu dan aku yakin mereka pasti akan langsung mengganti kerugian kita. Hahaha” aku tertawa pelan. Aku menoleh kearah jagiya sahabatku ini, ku lihat dia juga tertawa dengan ucapanku barusan.

“Baiklah. Aku harus pergi melihat yang lainnya. Jangan cemas dan merasa bersalah lagi, ya..!!” aku menasehatinya.

“Gomawo, sunbae” dia tersenyum, dan aku langsung berjalan keluar basecamp panitia.

Ku telusuri lorong kampus yang sangat sepi. Sesaat ku tersentak melihat sesosok namja yang berdiri beberapa meter didepanku. Dia tersenyum padaku. Aku melangkah mendekat, dan betapa terkejutnya aku, ternyata namja ini adalah sepupuku yang telah lama pindah ke Cina.

“Teukie hyung, apa kabar???” aku langsung memeluknya, menunjukkan kerinduanku.

“Baik. Bagaimana dengan dirimu sendiri, hah???” dia memukul punggungku.

“Baik, hyung. Kapan hyung balik ke Korea??? Kenapa tidak menghubungiku dulu” aku melepaskan pelukanku.

“Hahaha. Aku baru saja sampai di Korea, mungkin beberapa jam lalu, dan setelah mendengar acara ini, aku putuskan untuk kesini dan memberikan kejutan untukmu dan Shim SungGi.” Teukie hyung menjelaskan, dan terus tersenyum lebar. “Mana Shim SungGi, aku sudah sangat rindu untuk memeluknya” katanya lagi sambil tersenyum nakal padaku.

“Akkhh, Hyung..!!! Hyung masih tidak berubah, ya..!! Masih saja ingin mempermainkan saengku itu.” Aku membuat muka secemburut mungkin.

“Aku hanya bercanda. Tapi, aku benar-benar sangat merindukannya. Kau tau kan kalau aku ini anak tunggal, jadi aku tidak bisa mempermainkan siapapun selama di Cina.Hahaha” dia tertawa. Aku hanya mengeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah hyungku satu ini.

“Aku sebenarnya tidak tau dimana Shim SungGi karena dari tadi aku belum melihatnya. Tapi, bagaiman kalau kita berjalan-jalan sambil mencarinya” tawarku.

“Bisa juga idemu. Ayo kita cari dia” dia terlihat bersemangat dan berjalan mendahului diriku yang masih sedikit terkejut atas kedatangannya. Aku langsung mengiringi langkahnya dengan setengah berlari.

 

Beberapa menit kemudian, aku dan Teukie Hyung sampailah ditengah lapangan, tempat yang dijadikan pusat acara. Aku melihat Shim SungGi berdiri dipinggir lapangan, dibawah pohon yang rindang bersama Sung Young, Ha rin, dan KiBum. Tapi, tunggu dulu, KiBum menggenggam tangan Shim SungGi. Ada apa ini??? Aku bingung, sepertinya aku harus meminta penjelasan Shim SungGi atau KiBum secepatnya. Aku beralih lagi kearah Teukie Hyung yang ada disampingku. Astaga, dia menghilang. Aku alihkan lagi pandanganku kearah Shim SungGi, ternyata Teukie Hyung berjalan kearah mereka, aku langsung berlari menghampiri Teukie Hyung.

Mendadak, aku terhenti melihat tingkah Teukie Hyung yang berjalan memutar kearah belakang pohon.
”Dasar Teukie Hyung, ada saja akalnya untuk mengejutkan Shim SungGi”gumamku pelan.

Aku melangkah santai kearah Shim SungGi, sepertinya mereka semua tidak ada yang merasakan kehadiranku.

Aku berhenti tepat beberapa langkah di samping KiBum, mereka masih tidak menyadari kehadiranku, mereka masih tetap fokus dengan hal yang ada diatas panggung sana. Aku lihat tangan KiBum, dia masih menggenggam tangan Shim SungGi erat. Aku tersenyum, lalu ku putar badanku kearah panggung. Ternyata pada saat itu sedang tampil sebuah band lokal, aku resapi suarnya yang serak-serak tapi tetap lembut itu, sampai sebuah suara yang sangat kukenal menghilangkan konsentrasi ku pada lagu yang band itu tampilkan.

“Hei, yeoja yang sangat manis. Apa kabar??” dia membisikkan suaranya yang besar itu tepat ditelinga seorang gadis.

“Hyaaaaaa!!!” gadis itu yang tak lain Shim SungGi langsung berteriak, dan langsung memutar badannya.

“Apa kabar???” kata namja itu yang adalah Teukie Hyung,

“Teukie oppa, khhyyaaa..!!!” Shim SungGi langsung memeluk Teukie hyung.

Aku lirik ke arah KiBum, dia terlihat sedikit bingung dengan adegan yang ada didepannya, ku hampiri dirinya.

“Dia adalah Teukie hyung, sepupu kami yang sudah lama pindah ke Cina dan dia sudah kami anggap seperti kakak kami sendiri” aku menepuk pundak KiBum, dia terlihat kaget dengan kehadiranku.

“Oppa, aku sangat merindukan oppa. Kapan oppa datang???” Shim SungGi sudah melepas pelukannya.

“Waah, aku yang sangat merindukanmu tau??? Kamu tau di Cina tidak ada yang bisa ku jahili dan kupermainkan. Hahaha” kata Teukie hyung, dia lalu membelai rambut Shim SungGi.

“akhhh, oppa. Dasar kau, masih saja seperti dulu” Shim SungGi memeluk Teukie hyung sebentar  lalu melepaskannya lagi. “Oh, iya kenalkan ini sahabat ku Sung Young dan Ha Rin, dan ini sahabat Sungmin oppa, KiBum” Shim SungGi memperkenalkan Sung Young, Ha Rin, dan KiBum pada Teukie Hyung.

“Anyyeong, Leeteuk imnida. Tapi, kalian bisa memanggilku Teukie. Oke” Teukie hyung memperkenalkan diri.

“Hyung, kita kekantin saja, yuk,,!! Aku akan mentraktir hyung sebagai tanda selamat datang kembali ke Korea.” kataku bersemangat.

“Jinjja??? Baiklah, tapi Shim SungGi juga harus ikut” Teukie hyung menoleh kearah Shim SungGi.

“Ne, oppa. Aku akan ikut, tapi oppa duluan aja. Nanti aku akan menyusul. Oke” Shim SungGi tersenyum sambil mengangkat jempol tangannya.

“Oke. Oke” kataku.

 

Shim SungGi’s POV

Aku sangat terkejut karena secara tiba-tiba seorang namja mengejutkanku dengan berbisik manis tepat ditelingaku. Aku memutar badanku dan menemui Teukie oppa yang berada tepat didepanku.

“Hyaaaaaa!!!” aku berteriak dan tanpa sadar aku melepaskan genggaman tangan KiBum oppa, lalu memeluknya.

“Apa kabar???” Teukie oppa tersenyum lebar, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam.

“Teukie oppa, khhyyaaa..!!!” aku masih berteriak tidak percaya.

“Oppa, aku sangat merindukan oppa. Kapan oppa datang???” aku melepaskan pelukanku.

“Waah, aku yang sangat merindukanmu tau??? Kamu tau di Cina tidak ada yang bisa ku jahili dan kupermainkan. Hahaha” Teukie oppa tertawa lalu membelai rambutku lembut. View full article »